Direktur Marketing Buana 300x200Electronic Medical Record sudah banyak digunakan di berbagai rumah sakit di dunia sebagai pengganti atau pelengkap rekam medik kesehatan berbentuk kertas. Di Indonesia dikenal dengan Rekam Medik Elektronik (RME).

Sejalan dengan perkembangannya, RME menjadi jantung informasi dalam sistem informasi rumah sakit. Namun demikian para tenaga kesehatan dan pengelola sarana pelayanan kesehatan masih ragu untuk menggunakannya karena belum ada peraturan perundangan yang secara khusus mengatur penggunaannya. Sejak dikeluarkannya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 11 Tahun 2008 telah memberikan jawaban atas keraguan yang ada. UU ITE telah memberikan peluang untuk implementasi RME.

Salah satu penggunaan teknologi informasi (TI) di bidang kesehatan yang menjadi trend dalam pelayanan kesehatan secara global adalah Rekam Medik Elektronik. Selama ini rekam medik mengacu pada Pasal 46 dan Pasal 47 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Permenkes No.269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medik, sebagai pengganti dari Peraturan Menteri Kesehatan  No.749a/Menkes/PER/XII/1989.

Undang-undang No.29 Tahun 2004 sebenarnya telah diundangkan saat RME sudah banyak digunakan di luar negeri, namun belum mengatur mengenai RME. Begitu pula Peraturan Menteri Kesehatan No.269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medik belum sepenuhnya mengatur mengenai RME. Hanya pada Bab II pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa “Rekam medik harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik”. Secara tersirat pada ayat tersebut memberikan ijin kepada sarana pelayanan kesehatan membuat rekam medik secara elektronik (RME).

Sehingga sesuai dengan dasar-dasar di atas maka membuat catatan rekam medik pasien adalah kewajiban setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan pemeriksaan kepada pasien baik dicatat secara manual maupun secara elektronik.

Aspek Legal

Aspek legal pencatatan rekam medik adalah:

  • UU No. 29 Tahun 2004 - Praktik Kedokteran, Pasal 46-47,
  • Permenkes No.269 Tahun 2008 - Rekam Medik,
  • UU No.11 Tahun 2008 - ITE,
  • Pasal 6, 11, 16, 19, 20,
  • Permenkes No. 1171 Tahun 2011 – SIRS

Dari aspek legal di atas dapat disimpulkan  bahwa Rekam Medik harus ditulis pada saat  Pasien mendapatkan Pelayanan. Intinya adalah dokter harus menulis rekam medik yang bisa ditulis secara manual maupun elektronik. Ketika  kita akan masuk ke rekam medik elektronik maka ada beberapa hal yang  harus diperhatikan, yaitu: harus ada otentifikasi, harus aman, harus ada pin (login dan password), dan harus bisa diakses kembali kapan saja sesuai kebutuhan. Selain itu penyajian data rekam medik harus memenuhi persayaratan baik legalitas maupun segi medik oleh karena hal tersebut maka rumah sakit wajib melaksanakan SIRS (Sistem Informasi Rumah Sakit).

Perjalanan Rekam Medik

Dalam perjalanannya rekam medik lebih dititikberatkan pada bagaimana mengatur dokumen rekam medik. Dimana status rekam medik manual akan disimpan di sebuah gudang penyimpanan, perlu diketahui bahwa media penyimpanan seperti kertas adalah bahan yang mudah rusak dan mudah hilang baik dibawa pulang pasien ataupun di pinjam oleh instalasi lain. Sehingga bagian rekam medik akan sulit mengeluarkan data secara lengkap, apalagi berkas rekam medik di sebuah rumah sakit tidaklah sedikit.

Wadir. Pelayanan Medis RSUD. Soetomo 300x200Dalam perkembangannya, fungsi pendekatan awal adalah manajemen dokumen sehingga teknologi yang dipakai pada saat itu adalah kertas kemudian dialih mediakan ke media lain seperti CD. Kelemahannya adalah tidak ada yang bisa menjamin bahwa semua dokumen sudah ter-scan dan dimasukkan ke dalam CD. Setelah itu teknologi yang dipakai lebih berkembang yaitu dari media kertas ke micro film. Hal ini pun juga masih belum ada jaminan bahwa semua dokumen masuk ke dalam micro film karena di situ masih sangat rentan dengan human error.Kemudian teknologinya berkembang lagi dari media kertas diubah menjadi gambar dengan cara di-scan yang kemudian diubah menjadi text kemudian di-indexing.

Dari perjalanan rekam medik tersebut , semua akan berujung ke Computerized Physician Order Entry (CPOE) jika dilakukan pada satu tempat/rumah sakit dan Computerized Provider Order Entry (CPOE) jika dilakukan pada tempat terpisah-pisah. Rekam medik saat ini tidak lagi hanya mengenai berkas akan tetapi banyak hal yang harus dilakukan oleh bagian rekam medik seperti coding dan grouping, apalagi saat ini jumlah pengunjung yang berobat di rumah sakit terus meningkat dan rumah sakit tidak boleh menolak pasien baik umum maupun jaminan. Sehingga sudah harus mulai di pikirkan untuk tidak bertahan di teknologi manual dan berpindah ke teknologi elektronik.

Bagaimana pihak rekam medik menyikapi peraturan yang sudah mulai berlaku sedangkan untuk memakai teknologi memerlukan biaya yang sangat besar. Hal ini harus disikapi dengan bagaimana cara memilih teknologi yang tepat dalam penerapan rekam medik elektronik. Oleh karena itu teknologi yang dipakai harus memiliki output seperti di bawah ini yaitu :

  • Rekam medik harus Aman, hanya bisa diakses oleh dokter pemeriksa yang memiliki login dan password. Selain itu Revisi rekam medik hanya bisa dilakukan melalui supervisor atau dokter yang memiliki password khusus dan sesuai dengan hak akses tertentu;
  • Rekam medik harus Informatif, data SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planning) harus clear, correct, dan complete (3C) sesuai dengan kebutuhan masing-masing;
  • Rekam Medik harus Efektif dan Efisien, data rekam medik tidak boleh ada redundansi atau double record, kemudian harus single registration number system, oleh karena itu harus memakai barcode dalam sistem penomoran rekam medik;
  • Rekam Medik harus Manusiawi/Mutu, proses registrasi dan pelayanan kepada pasien lebih bermutu, cepat dan akurat sehingga pasien merasa puas ketika mendapatkan pelayanan di rumah sakit.

Dari berbagai sumber yang telah di kumpulkan seperti undang-undang praktek kedokteran, undang-undang ITE, Permenkes menyangkut rekam medik dan Permenkes menyangkut SIRS. Ada beberapa unsur atau persyaratan yang harus dipenuhi ketika akan melakukan peralihan dari rekam medik manual ke rekam medik elektronik, yaitu :

  • Privacy atau confidentiality, dalam pencatatan rekam medik harus di jaga privacy dan confidentiality-nya, keamanan data harus terjaga dan tersimpan dalam satu tempat yang aman sesuai dengan standar;
  • Integrity, yaitu harus terintegrasi. Bagaimana cara mengintegrasikan yaitu dengan cara dari semua pintu masuk pasien ke rumah sakit harus diakomodir dengan satu nomor rekam medik dengan sistem barcode sehingga dari pintu manapun pasien masuk akan menggunakan satu nomor dan dapat dilayani di semua instalasi;
  • Authentication, di dalam undang-undang ITE otentifikasinya harus menggunakan PIN artinya setiap dokter yang memasukkan data rekam medik elektronik harus memiliki pin untuk akses ke sistem rekam medik;
  • Availability, data yang telah dimasukan harus bisa di akses kapanpun sesuai kebutuhan;
  • Access control, di sini harus jelas level mulai dari user, supervisor dan manajemen, baik yang melakukan entry, update maupun melakukan pencetakan terhadap dokumen rekam medik;
  • Non-repudiation, dalam FORMIKI disebutkan bahwa Non-repudiation/tidak ada sanggahan adalah log perubahan data yang mencatat kapan waktu dilakukan perubahan, alamat komputer (dimana dilakukan perubahan), data apa yang diubah dan siapa yang melakukan perubahan. Sehingga LOG dari perubahan bisa terlihat dan terekam secara sistem.

Audiences 270x180Diskusi 270x180

SIM RS MIRSA® dan EMR Terintegrasi

Sistem terintegrasi MIRSA® dibangun dari front office (FO) antara lain registrasi, pelayanan, pembayaran, EMR, rekam medik, dll, serta back office (BO) antara lain akuntansi, budgeting, manajemen asset, inventory control, dll. Dimana aplikasi tersebut sudah ada dalam satu paket yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainya, selain itu hasil output dari sistem integrasi juga sangat tergantung dari entry/masukan data yang dilakukan oleh operator di front end setiap instalasi yang terkait.

Untuk menjalankan sistem integrasi juga harus memperhatikan hardware yang digunakan, dalam sistem terintegrasi harus memenuhi standar yang dibutuhkan, misalnya untuk radiologi harus memakai standar DICOM, jika antar tempat harus memakai HL7 message sebagai standar. Di sinilah muncul persoalan yang dialami pihak rumah sakit terkait pembiayaan yang terlalu tinggi jika mengikuti standar yang ada, sedangkan core bisnis proses ini harus bisa di integrasikan ketika muncul alat-alat baru yang ada di rumah sakit.

Ketika membicarakan sistem yang terintegrasi maka perlu juga diperhatikan mengenai jaringan, sistem yang terintegrasi tidak mungkin terwujud jika tidak dibangun dengan jaringan yang terintegrasi pula, seperti halnya di RSUD Dr Soetomo Surabaya jaringan yang dibangun melibatkan ±21 Km kabel fiber optic di luar kabel UTP yang menghubungkan seluruh jaringan yang ada di rumah sakit, sehingga integrasi sistem dan jaringan bisa terwujud.

Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya saat ini telah menjalankan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) yang terintegrasi sejak memakai MIRSA® pada tahun 2009. Saat ini bisa dilihat di Rumah Sakit Dr Soetomo baik dari segi hardware, software dan jaringan sudah tertata rapi dan terintegrasi dengan baik, semua transaksi bisa terintegrasi menjadi satu pintu, Rekam Medik pasien bisa masuk ke dalam sistem elektronik dengan baik karena dari semua poliklinik di IRJ RSUD Dr Soetomo sudah memakai EMR(Electronic Medical Record). Selain itu saat ini sangat mudah bagi pihak rekam medik RSUD Soetomo mengeluarkan laporan yang berkaitan dengan rekam medik pasien baik secara rekap maupun detail. Para dokter dapat melakukan penelitian yang berkaitan dengan pasien karena data bisa diakses dengan mudah melalui login serta password yang dimilikinya.

Kunjungan ke Stand Buana 300x200

Kesimpulan

  • Pencatatan Rekam medik adalah wajib bagi dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan medis kepada pasien, sesuai dengan aturan dan undang-undang yang ada di Indonesia, sehingga tidak ada alasan bagi dokter untuk tidak membuat rekam medik pasien.
  • Rekam medik elektronik merupakan solusi bagi rumah sakit untuk mengatasi berbagai masalah yang sering terjadi di rumah sakit seperti tempat penyimpanan yang besar, hilangnya rekam medik, pengeluaran data yang dibutuhkan, dll.
  • Untuk membangun sistem yang baik di rumah sakit diperlukan sistem yang terintegrasi baik dari segi software, hardware, dan jaringan.
  • Teknologi bukan segalanya akan tetapi semuanya tergantung dari input serta bagaimana memilih teknologi yang tepat guna bagi rumah sakit.
Copyright © 2019 PT Buana Varia Komputama