RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Tingkatkan Pelayanan dengan IT

Bisa Cek Ketersediaan Tempat Tidur Tanpa Antre

 

BALIKPAPAN - Peningkatan pelayanan RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) dapat segera dinikmati masyarakat Balikpapan. Dengan mengusung berbasis Informasi Teknologi (IT), pelayanan ini akan memudahkan masyarakat dalam mendapat informasi dan perawatan yang cepat serta akurat.

Direktur RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan Edy Iskandar mengatakan launching sistem IT yang dilaksanakan, Selasa (10/11), ini merupakan realisasi dari gagasan peserta diklat kepemimpinan III angkatan II tahun 2015 Badan Diklat Provinsi Kalimantan Timur. Pekerjaan sistem informasi manajemen rumah sakit difasilitasi oleh PT Buana Varia Komputama (BVK) sejak September lalu.

"Ini merupakan tahap pertama dari tiga tahap yang kami rencanakan selama setahun agar layanan E-Hospital RSKD menjadi maksimal." ucapnya.

Dalam tahap awal ini, ada tiga kemudahan yang dapat dinikmati. Yakni masyarakat dapat mengetahui ketersediaan tempat tidur pasien dengan mengakses website www.rsudkanujoso.com. Dan dengan sistem layanan informasi manajemen pasien berdasarkan nomor HP yang diberikan, masyarakat dapat menerima ucapan terima kasih karena telah berobat, tagihan pembayaran yang harus dibayar, dan jadwal kontrol pemeriksaan secara otomatis.

"Resume Medis juga dilakukan secara elektronik. Jadi dokter dan pasien menjadi lebih mudah dalam merekam data tanpa menulis dan pasien dapat membaca dengan jelas resume pengolahan data perawatan mereka," paparnya.

Dengan layanan ini, kata Edy Iskandar, penghematan ratusan juta ke depannya dapat dilakukan. "Dapat menghemat biaya kertas karena penggunaan alat elektronik untuk penyimpanan data serta dokumen. Sehingga prosesnya lebih mudah, simpel, serta akurat," harapnya.

Selain itu, bagi masyarakat yang merasa kesusahan dengan sistem baru tersebut dapat dibantu dengan adanya dua monitor untuk informasi tempat tidur pasien yang berada di Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TP2RN) dan Unit Gawat Darurat (UGD).

"Setelah itu mereka akan dibantu petugas setempat untuk mendaftar," bebernya. Selain itu, SMS dan telepon melalui Call Center juga disediakan bagi masyarakat yang membutuhkan informasi dengan cepat bila mengalami kesulitan dengan internet.

Ia berharap dengan adanya sistem ini, masyarakat dapat memperoleh informasi pelayanan RSKD hanya dengan menjelajah internet secara cepat dan jelas tanpa proses antre yang panjang. "Semoga masyarakat Balikpapan dapat puas dengan pelayanan maksimal kami melalui pemberian informasi lewat media elektronik," ungkapnya.

 

Sumber : KALTIM POST (Rabu, 11 November 2015)

 

 

 

 

Gunakan SIRS, Pendapatan RS Kandou Meningkat 100 Persen

MANADO - Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Umum Pusat Prof dr RD Kandou, Malalayang, menjadi salah satu rumah sakit yang telah menggunakan pendataan real time yang online. Menariknya, sejak menggunakan pendataan online yang dinamakan SIRS (Sistem Informasi Rumah Sakit), RS Kandou mampu meningkatkan pendapatannya 100 persen lebih.

Menurut Dirut RS Prof Kandou, dr. Maxi Rondonuwu DHSM kepada Komentar kemarin (03/11), sejak menggunakan SIRS 2014 lalu, pendapatan RS mencapai Rp. 236 miliar. "Sedangkan sebelum menggunakan SIRS, pendapatan berkisar Rp. 101 miliar," ungkapnya.
Tren peningkatan pendapatan terjadi juga di tahun 2015 ini, di mana data sampai Agustus 2015, pendapatan rumah sakit sudah menyentuh angka Rp. 226 miliar. "Saya prediksi pada tutup tahun ini, pencapaian pendapatan bisa mendekati Rp. 300 miliar," kata Rondonuwu seraya menyatakan optimis pencapaian tahun 2015 bisa melebihi 2014 lalu.

Rondonuwu mengakui, selain peningkatan kelas rumah sakit (menjadi tipe A), SIRS yang diterapkan di RS Kandou ikut memberikan andil besar dalam mencegah kebocoran administrasi, sehingga berkolerasi dalam peningkatan pendapatan rumah sakit. Sebab selain transparan, juga SIRS bisa mendeteksi jika ada yang coba-coba bermain dalam administrasi. Dan itu sudah terbukti, ketika ada oknum staf yang kedapatan 'bermain' dengan mencoba memanualkan sistem pembayaran. "Begitu diketahui staf (2 orang) itu langsung dipecat." kata Rondonuwu.

Selain mampu meningkatkan pendapatan karena semua sistem langsung sudah online dan transparan, SIRS juga mampu menampilkan data secara real time setiap harinya, karena lewat SIRS yang ditayang lewat layar monitor TV, mencatat jumlah kunjungan pasien per instalasi, termasuk jenis penyakit apa yang terbanyak serta pemetaan domisili asal pasien, juga jumlah ruangan dan kelas yang ditempati.

Masyarakat umum juga bisa melihat data yang selalu up to date setiap hari, bahkan dalam hitungan jam, lewat layar monitor yang ditempatkan di RS. Sedangkan bagi pimpinan RS Kandou, data itu bisa diakses dari jarak jauh dengan fasilitas jaringan internet. "Dimana saja saya berada, data SIRS ini bisa saya akses," kata Rondonuwu. Namun untuk mengakses lewat online, diperlukan password khusus, dan hanya pimpinan (DIrut dan kalangan direksi) saja yang diberikan akses.

Pada bagian lain, ada data menarik sekaligus warning bagi warga Sulawesi Utara ketika sejumlah wartawan bersama Dirut melihat data real time SIRS lewat layar monitor kemarin (03/11) sekitar pukul 16.00 WITA, di mana dalam data tiga bulan terakhir mengungkapkan kasus pasien yang menjalani cuci darah akibat penyakit ginjal, cukup menonjol dan signifikan. "Penyakit ginjal masuk dua besar teratas," kata Rondonuwu mengingatkan.

Oleh sebab itu, dia mengatakan dari data tersebut, pihaknya berupaya memperbanyak ruang dan fasilitas perawatan penyakit ginjal. Penggunaa SIRS ini sendiri, masih termasuk 'langka' di Indonesia. Ini tentunya merupakan sebuah gebrakan bagi RS Prof Kandou yang telah mampu menerapkan sistem IT dalam meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit, khususnya pendapatan.

Seperti diketahui, Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) atau dalam Bahasa Inggris disebut Hospital Information System (HIS), merupaka suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data rumah sakit se-Indonesia. Aplikasi sistem informasi ini mencakup semua rumah sakit umum maupun khusus, baik yang dikelola secara publik maupun private sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2019 tentang Rumah Sakit. SIRS ini merupakan penyempurnaan dari SIRS Revisi V yang disusun berdasarkan masukan dari tiap direktorat dan sekretariat di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. Hal ini diperlukan agar dapat menunjang pemanfaatan data yang optimal serta semakin meningkatnya kebutuhan data saat ini dan yang akan datang.

 


Sumber : Harian Komentar (Rabu, 4 November 2015)

 

 

 

SIRS RSUP Kandou Jadi Panutan Nasional

MANADO - Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) yang diterapkan Rumah Sakit Umum Pusat Prof Dr RD Kandou Manado menjadi panutan bagi rumah sakit lain yang ada di Indonesia.

Direktur Utama (RSUP) Prof Dr RD Kandou, dr Maxi Rein Rondonuwu DHSM MARS mengatakan, di seluruh Indonesia baru RSUP Prof Dr RD Kandou Manado yang menerapkan program SIRS. "Banyak sekali keuntungan dan kemudahan yang didapat jika rumah sakit menerapkan SIRS. Terutama dalam mengawasi pendapatan, karena dengan SIRS pendapatan rumah sakit dapat dilihat langsung dan dapat diakses up to date oleh manajemen dan publik," kata Rondonuwu, Selasa (3/11) kemarin.

Dalam sistem tersebut, kata dia, juga bisa diketahui jumlah pasien yang masuk serta share penyakit dan daerah asal pasien. "Saat SIRS mulai diterapkan, terjadi peningkatan volume pendapatan yang signifikan dengan persentasi kenaikan sebesar 100 persen. Nah, ini variabel kepentingan penggunaan SIRS  di rumah sakit," tukasnya.

Kata dia lagi, saat ini sudah ada beberapa rumah sakit besar di Indonesia yang datang untuk mempelajari SIRS. "Rumah sakit sekelas RS PGI Cikini saja sudah pernah datang untuk melihat dan mempelajari SIRS di sini," tukasnya.

Saat ditanya mengenai capaian pendapatan RSUP Prof Dr RD Kandou, Rondonuwu mengatakan, hingga akhir Oktober pendapatan sudah menyentuh angka Rp. 264 miliar sementara total pendapatan tahun 2014 hanya berada di angka Rp. 236 miliar.

"Tapi saya optimis total pendapatan rumah sakit ini untuk tahun 2015 adalah sebesar Rp. 285 miliar. Angka ini adalah target, dan untuk menggapai itu, sistem kerja yang diterapkan harus benar-benar profesional sebab pekerjaan di sini selalu bermuara pada pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat," kata Rondonuwu.


Sumber : Koran Manado (Rabu, 4 November 2015)

 

Copyright © 2019 PT Buana Varia Komputama