Jakarta - Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kecepatan pencairan klaim adalah "nyawa" bagi operasional Rumah Sakit (RS). Salah satu kunci agar klaim BPJS Kesehatan lancar adalah penerapan sistem bridging iDRG (Indonesia Diagnosis Related Group).
Namun, ternyata belum semua RS menerapkan sistem ini secara sempurna. PT Buana Varia Komputama, sebagai mitra teknologi sistem informasi RS, membeberkan ada tiga klasifikasi bridging yang menentukan nasib cashflow rumah sakit.
Mulai dari yang masih manual hingga yang sudah otomatis penuh, RS Anda masuk kategori yang mana? Simak 3 klasifikasinya berikut ini:
1. Belum Bridging (Manual)
Ini adalah level paling dasar dan paling berisiko. Pada tahap ini, sistem di RS berjalan sendiri-sendiri tanpa koneksi ke server BPJS.
Petugas RS terpaksa melakukan double entry. Data pasien diketik di komputer RS, lalu diketik ulang secara manual di aplikasi V-Claim atau E-Klaim.
Risikonya sangat jelas. Selain memakan waktu lama yang bikin antrean pasien mengular, potensi human error atau salah ketik sangat tinggi. Akibatnya? Berkas klaim sering dikembalikan atau pending.
2. Bridging Sebagian
Banyak RS di Indonesia saat ini berada di fase "tanggung" ini. RS sudah melakukan bridging, tapi biasanya hanya terbatas pada bagian pendaftaran (V-Claim) untuk mencetak Surat Eligibilitas Peserta (SEP).
Sementara untuk urusan coding diagnosa dan grouping tarif iDRG, petugas casemix masih harus bekerja semi-manual.
Meski lebih baik dari cara manual, metode ini masih menyisakan celah data yang tidak sinkron antara pelayanan medis dengan tagihan. Beban kerja tim administrasi pun masih cukup berat saat mengejar tenggat waktu pengajuan klaim bulanan.
3. Full Bridging (Integrasi Total)
Ini adalah standar ideal yang disarankan oleh PT Buana Varia Komputama bagi RS modern.
Pada level Full Bridging, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) terintegrasi total. Mulai dari pendaftaran pasien, resep elektronik, hasil lab, hingga penentuan kode diagnosa dan tarif iDRG, semuanya terhubung dalam satu aliran data.
Keunggulannya adalah zero double entry. Dokter mengisi rekam medis, sistem otomatis menarik kode, dan tarif iDRG langsung keluar secara real-time.
Manajemen RS pun bisa memantau estimasi pendapatan harian tanpa perlu menunggu akhir bulan. Transparansi dan akurasi inilah yang membuat proses verifikasi BPJS jadi lebih mulus.
Saatnya Beralih ke Full Bridging
Bertahan dengan sistem manual atau setengah-setengah hanya akan menghambat pelayanan.
Dengan solusi SIMRS yang mendukung Full Bridging, risiko klaim pending bisa dipangkas drastis. Efisiensi ini bukan hanya soal uang, tapi juga soal peningkatan kualitas layanan kepada pasien.